Kamis, 27 Juni 2019

Teknik 4R untuk Mengelola Self Talk

Mengelola Self Talk bisa dikatakan sebagai “Seni Berdialog dengan Diri Sendiri”. Karenanya dapat kita pelajari langkah-langkahnya satu per satu. Dari sekian materi self talk yang ditulis banyak mentor dan konsultan pengembangan diri, tips mengelola self talk dari Erika Andersen ini mungkin adalah yang paling sederhana yang bisa kita ikuti satu per satu.

Erika Andersen adalah seorang business coach dan konsultan yang fokus pada pengembangan leadership. Dia menemukan bahwa selama bertahun-tahun, permasalahan yang terjadi dalam kehidupan manusia seringkali dipengaruhi oleh bagaimana kita berbicara mengenai diri kita sendiri maupun orang lain, yakni self talk.

Dan tahukah kamu, self talk negatif bersifat sangat polutif (bersifat polusi) terhadap diri Anda sehingga bisa membuatmu “mati” perlahan-lahan. Tentu dalam arti bahwa hal itu bisa membatasi perkembangan diri Anda.

Karenanya belajar untuk mengelola self talk kita sendiri adalah alat yang sangat berguna dan harus ada dalam ruang pengembangan diri (self development box) kita.

Berikut empat (4R) langkah cara kerja self talk :

·    Recognize : Langkah pertama untuk mengenali self talk kita adalah dengan “mendengarkannya”. Tanpa menyadari proses monolog yang terjadi dalam diri kita, mustahil untuk berharap kita bisa merubahnya. Misalnya ketika diri Anda sedang dipromosikan. Sadari apa yang muncul pertama kali dalam pikiran Anda. Mungkin Anda akan mendengar “Saya pasti gagal, nih”, “Enggak mungkin saya berhasil”, “Saya tidak bisa mengerjakannya dengan baik” – segera setelah Anda mendengarnya, Anda akan mulai merasa hopeless, tak berdaya dan Anda mulai mempercayai pikiran negatif Anda. Jadi, mulailah sadari dialog yang sedang terjadi dalam diri kita.


·     Record : Tulis perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran negatif yang muncul. Hal ini membantu Anda untuk melihatnya sebagai bagian di luar diri Anda. Membuat Anda bisa melihatnya secara lebih netral dan menganalisa pikiran-pikiran negatif itu secara lebih obyektif.

·  * Revise : Setelah mencatat atau menuliskan pernyataan-pernyataan negatif tadi, Anda bisa meninjaunya dan memilih untuk memikirkannya kembali. Ini langkah terpenting dalam proses pengelolaan self talk. Dimana Anda mencoba untuk mencari alternatif pengganti lain dari pernyataan-pernyataan negatif yang muncul. Inilah saatnya kamu bisa mengganti dan mengubahnya menjadi pernyataan yang lebih positif. Misalnya – “Saya tahu promosi ini sangat menantang. Tapi saya sangat baik dalam mempelajari hal-hal baru dan saya sangat termotivasi karenanya.”

*  * Repeat : Seperti membangun kebiasaan positif lainnya, mengelola self talk juga perlu untuk dilakukan berulang-ulang. Jika Anda menyadari hal ini memberimu manfaat yang positif, maka Anda perlu secara sadar untuk terus melakukannya lagi ketika self talk negatif terjadi. Kegiatan self talk positif yang berulang ini akan membentuk kebiasaan berpikir positif. Yang kemudian akan membantu Anda membangun kebiasaan-kebiasaan positif yang lain.

Kunjungi situsnya disini

Semoga bermanfaat

Salam



Mengenal Self Talk



Sebelum banyak mengikuti kelas-kelas pengembangan diri, saya belum tahu apa itu self talk. Baru tiga tahun belakangan ini saya mengenal tentang self talk.

Sependek pemahaman saya, self talk ini adalah proses berdialog dengan diri sendiri. Dialog antara pikiran kita dan diri kita, apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan.

Proses self talk sebenarnya sudah sering kita lakukan setiap hari. Hanya saja kita tidak menyadarinya bahwa itulah yang dinamakan self talk.

Dalam dunia self development, self talk ini dapat dipelajari dan dimanfaatkan untuk meningkatkan proses pengembangan pribadi kita dengan lebih positif.

Self talk membantu saya menemukan diri saya kembali. Dengan mengelola self talk saya kembali mempelajari dunia saya dari dalam. Mencoba memahami pikiran saya, perasaan saya dan lingkungan di sekitar saya.

Siapa saya? Apa peran saya di dunia ini? Mengapa saya memilih jalan hidup saat ini? Apa yang hendak saya capai dalam hidup ini? Dan bagaimana saya bisa bermanfaat bagi orang lain di dunia ini?

Kurang lebih itulah beberapa pertanyaan yang saya ajukan ketika saya mulai belajar mengelola self talk.

Dunia di luar diri kita ini tanpa kita sadari sudah merenggut kemerdekaan diri kita. Kita kehilangan kendali atas diri kita tanpa bisa kita cegah. Dan sayangnya, besarnya ego manusia kita menambah keterperangkapan kita di dunia yang asing. Hanya karena kita tidak ingin dipandang jelek, dianggap tidak baik atau nyeleneh karena berbeda dengan yang lain. Kita senang dianggap sempurna, baik dan pintar.

Misalnya saja saya ingin menjadi ibu yang baik dan sempurna untuk anak-anak dan keluarga saya. Padahal tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semua pasti pernah melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan. Tapi ego menjadi sempurna adalah bingkai pikiran sadar saya yang terbentuk karena proses pengaruh lingkungan.

Menjadi istri itu harus “manut” (nurut) sama suami, istri itu ya harus bisa masak, bersih-bersih rumah, beres-beres. Kalau rumahnya bersih berarti kamu istri yang rajin dan baik. Menjadi ibu itu harus pinter mendidik anak-anak. Kalau anak-anaknya pinter dan sehat, berarti kamu itu ibu yang baik dan pinter. Anak-anak itu harus dikasih ASI, dikasih makan yang banyak sayur, buah, bla bla bla...

Sering mendengarnya kan? Paling tidak kita pasti sudah akrab dengan kalimat-kalimat itu. Ya, setiap orang merasa berhak menyuruh kita melakukan ini dan itu. Merasa benar karena mereka juga mengikuti saran dari orang lain seperti orang tua mereka.

Well, saya bukan ingin mencari kesalahannya dimana, namun sebagai manusia kita memiliki otonomi atas diri kita pribadi. Jangan biarkan orang lain mengatur dan mempengaruhi kita menjadi seperti yang mereka inginkan. Tetapi, berusahalah menjadi diri kita sendiri seperti yang kita inginkan.


Dengan belajar self talk, saya menemukan apa yang saya cari..

Salam

Selasa, 25 Juni 2019

,

Lebih Produktif di Pagi Hari

Image by Karolina Gabrowska Pixabay pict.


Melakukan pekerjaan rumah tangga itu tidak akan ada habisnya. Apalagi jika memiliki anak-anak yang masih kecil. Semua masih memerlukan perhatian penuh dari orang tua khususnya sang ibu.

Dulu, bangun pagi seperti “siksaan” yang tidak ingin saya lalui. Sudah kebayang seabrek pekerjaan rumah tangga selama satu hari penuh, menyapu, ngepel, masak, mencuci, setrika.. nyapu lagi, cuci-cuci, beres-beres, masak, setrika lagi. Heeem...meski saya sudah sangat handal melakukan semuanya, tapi rutinitas semacam itu membuat saya bosan. Bahkan karena seringkali ada yang ditunda, beberapa pekerjaan rumah jadi menumpuk dan harus saya rapel sehari penuh. Astaga capek banget...

Jadi bisa dibayangkan situasi seperti itu jadi memori bawah sadar yang enggak menyenangkan.
Pengeeen...banget semuanya bisa terkendali dengan baik. Meski banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, saya pengen semua bisa dikerjakan dengan hati yang ringan.

Bersyukur saya menemukan ilmu yang bermanfaat banget untuk bisa mengelola kesibukan saya.

Mulai membentuk rutinitas pagi yang produktif

Apa yang kamu inginkan ketika kamu bangun pagi? Tentu hari-hari yang lancar dan menyenangkan bukan? Pekerjaan selesai, semua terkendali dan tentu berharap masih punya waktu untuk me time.

Oke, saya baru tahu dan menyadari bahwa pagi hari adalah waktu yang sangat berharga untuk produktivitas kita. Dia adalah sumberdaya berharga yang perlu kita kelola dengan baik. 

Di pagi hari, energi fisik dan mental kita berada dipuncaknya. Dua jam setelah bangun adalah waktu istimewa. Maka, penting sekali menggunakan kekuatannya untuk membantu kita mewujudkan hal-hal yang kita inginkan dalam hidup. Sangat banget kan kalau kita menghabiskan waktu istimewa ini untuk melakukan hal-hal yang justru menguras energi.

Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita sisipkan dalam rutinitas pagi kita agar lebih produktif

Pertama, mengasah gergaji

Kedua, merencanakan hari

Ketiga, melakukan aktivitas kunci

Mengasah gergaji adalah istilah yang diciptakan Stephen Covey. Maksudnya adalah aktivitas untuk mengasah sumber daya yang kita miliki dalam diri ini, seperti spiritual, intelektual, emosional, dan fisikal. Dengan demikian keempat hal ini menjadi tajam dan "siap digunakan."

Apa yang dapat kita lakukan untuk mengasah keempat hal ini? Ada banyak pilihan, bisa dipilih satu aktivitas yang paling pas dengan diri kita masing-masing.
Beberapa contoh yang bisa kita pilih diantaranya :


  • Spiritual - berbagai aktivitas mengolah jiwa : beribadah, berdoa, dzikir pagi, meditasi.
  • Intelektual - berbagai aktivitas mengolah pikiran : membaca buku, menulis jurnal, mendengarkan audio pengembangan diri.
  • Emosional - berbagai aktivitas mengolah rasa : meditasi mindfulness, memeluk istri/suami, berbincang dengan anak-anak.
  • Fisikal - berbagai aktivitas mengolah raga : 7 minute work out, yoga, pilates, jogging, berlatih jurus bela diri.
Sebagai contoh, Hal Elrod (penulis buku The Miracle Morning) menyarankan rutinitas pagi sebagai berikut : S.A.V.E.R.S

1. Silence - diam. Melakukan meditasi untuk menenangkan pikiran.
2. Affirmation - mengucapkan kalimat afirmasi
3. Visualization - membayangkan kehidupan yang Anda inginkan
4. Exercise - berolahraga
5. Reading - membaca buku
6. Scribing - menuliskan apapun yang terlintas di dalam pikiran

Ingin tahu lebih lanjut, bisa kunjungi websitenya disini.

Sampai hari ini saya masih mengikuti strategi dari Stephen Covey. Masing-masing elemen kurang lebih mendapat waktu 1 menit hingga 5 menit setiap harinya. Bahkan bisa juga lebih. Tergantung kebutuhan saya untuk melakukannya secara terfokus.

Salam

Ike/selfdevelopment




Apa yang kau syukuri hari ini?

dok.pribadi/ike/2019


Lima bulan sudah matahari terasa tak pernah sehangat dulu lagi bagi sang suami yang sedang mencoba menikmati pagi itu dengan menegakkan sedikit kepalanya.

Masih hangat di pikirannya sakit hati yang tak terkira yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bukan sakit karena dikhianati, tapi lebih menyakitkan dari itu. Dia harus menanggung hutang yang bukanlah miliknya. Tertipu ratusan juta pada investasi bodong yang terlanjur dipercayainya. Tak bisa dihindari kepercayaan pertemanan segera berubah menjadi permusuhan. Kini dia ditinggal sendiri, terpuruk menanggung derita yang entah kapan bisa ia selesaikan..

Kopi pagi kini tak pernah terasa nikmat, seperti saat terakhir dia bisa mengingatnya sebelum kejadian itu. Kenapa semua jalan terasa buntu? Di saat dia sangat membutuhkan solusi segera untuk keluar dari permasalahan itu. Harta benda sudah habis tergadai. Bahkan sebagian besar sudah tidak bisa kembali lagi.

Teman-teman dekat, bahkan saudara sendiri yang sepertinya sangat memahami dia sejak bertahun-tahun, tak satu pun sanggup dan berani bertahan di sisinya. Satu per satu pergi menjauh. Tak ada solusi, hanya tatapan kasihan dan simpati. Lebih banyak yang memandang sinis dan menyalahkan.

Sang suami hanya memiliki istri dan anak-anaknya. Yang sangat dia harapkan tidak juga ikut menghilang bersama harta bendanya yang lain. Bersyukur baginya, sang istri tetap bertahan dengan segenap cintanya yang tulus. Meski terkadang perih, karena sadar dia tidak akan bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya seperti sebaik sebelumnya. Melihat istrinya berpeluh di dapur dan melayani beberapa pelanggan catering kecil-kecilannya, membuat hatinya tak tega. Namun saat ini dia tak berdaya...

Penghasilan mereka kini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Biaya sekolah anak-anak pun kini seringkali ditunggak. Harga dirinya sebagai seorang suami dan laki-laki terluka sangat dalam.

Diseruputnya lagi kopi yang hampir dingin itu dengan perlahan. Sejurus dirasakannya sesuatu yang hangat dan halus menyentuh pundaknya. Di lihatnya wajah sang istri dihiasi senyumannya teduh. Sejenak hatinya menghangat dan mereka duduk berdua berdampingan di teras dingin itu. Sang istri menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami.

“Yah, apa yang kau syukuri hari ini?”, tanya sang istri

Sedikit terkejut sang suami mendengarnya. Karena tak disangkanya pertanyaan itu akan meluncur dari sang istri di tengah situasi keluarga mereka yang sedang susah seperti itu.

“Apa yang kau syukuri hari ini, Yah?”, tanya istrinya sekali lagi, menyadarkan sang suami dari keterkejutannya.

“Ehm...tidak tahu, Bu” akhirnya jawaban itu yang spontan keluar dari mulutnya.

Sang istri tersenyum dan menatap sang suami dengan lembut, “Aku bersyukur, hari ini aku masih bersamamu dan anak-anak. Melewati badai ini dan terus mendampingimu sampai Tuhan mengijinkan badai ini berlalu”.

Kata-kata sang istri menghujam jantungnya. Tak terasa kedua matanya menghangat. Disentuhnya dengan lembut tangan sang istri yang dingin karena angin pagi dan mendekapnya lebih erat ke dalam pelukannya.

“Ya, aku masih memilikimu sayang dan juga anak-anak. Kita pasti bisa melalui badai ini dengan ijin Tuhan. Terima kasih”.

Kecupan lembut di kening istrinya adalah satu-satunya tanda terima kasih terdalam yang dia punya, dan kini dia tahu satu-satunya alasan yang bisa membuatnya bertahan dan menikmati pagi dengan tatapan penuh pengharapan setiap hari.

End/Ike

Minggu, 23 Juni 2019

Menyiasati Anggaran Bulanan Rumah Tangga


Pernah mengalami kecelakaan finansial? Atau bahkan sering? Yang saya maksud kecelakaan finansial disini adalah jumlah pengeluaran yang tidak sebanding dengan pemasukan. Misalnya saja, jatah gaji suami per bulan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga tahu-tahu sudah habis di tengah bulan. Akhirnya kita sendiri yang kelimpungan bagaimana memenuhi kebutuhan sisa bulan. Contoh yang lain, ibu-ibu yang juga punya usaha jualan merasa punya untung tapi kok enggak ada uang di tangan.  Semuanya seperti amblas saja impas saja enggak ada uang yang kepegang.

Menurut saya, kekurangan uang di akhir bulan sebenarnya bukan tergantung dari berapa jumlah uang yang kita miliki setiap bulannya. Uang sejuta dengan uang lima juta per bulan akan sama saja nasibnya kalau kita enggak bisa mengaturnya dengan baik.

Terus, caranya gimana dong biar ember keuangan kita enggak bocor disana-sini.

1.     Wajib punya tabungan
Dapat uang banyak atau sedikit dari suami, setidaknya kita harus bisa menyisihkan sedikit untuk ditabung. Sekurang-kurangnya 10% dari jumlah uang bulanan yang kita terima. Misalnya uang satu juta per bulan, kita sisihkan Rp. 100.000 untuk ditabung setiap bulan. Syukur-syukur ada tambahan dari sisa uang belanja, bisa dimasukkan juga ke tabungan.

2.     Gaya hidup
Gaya hidup juga mempengaruhi gaya pengeluaran kita loh. Nah, disini nih, kita para perempuan harus pandai-pandai mendisiplinkan diri. Meski gaya hidup itu terserah pilihan masing-masing orang, ada baiknya kita menerapkan prinsip kesederhanaan dalam hidup. Caranya gimana? Utamakan kebutuhan bukan keinginan.
Kalau kebutuhan sudah benar-benar terpenuhi, baru kita bisa membelanjakan uang kita untuk memenuhi keinginan kita.

3.     Membuat catatan
Malas membuat catatan keuangan. Ini juga yang seringkali dihindari, malas mencatat pemasukan dan pengeluaran kita. Mungkin ada yang berpikir mencatat keuangan itu susah, harus seperti akuntan-akuntan keuangan yang pakai tabel-tabel itu. Akhirnya ditunda-tunda deh bikin catatan keuangannya. Meski sebenarnya diri kita sendiri sadar bahwa mencatat keuangan punya banyak manfaat positif.

Oke, lupakan tabel keuangan, mari kita mulai saja dengan yang paling sederhana. Tuliskan pemasukan kita bulan ini berapa. Lalu di bawahnya kita tulis pengeluaran kita bulan ini berapa. Pengeluaran perlu ditulis secara rinci ya, kalau perlu uang parkir dan uang bensin juga harus dimasukkan dalam catatan pengeluaran. Setelah itu kita total semua dan lihat berapa saldo yang ada. Apakah minus atau plus?

Supaya kita tidak belanja di luar budget yang sudah kita anggarkan, biasakan untuk membuat catatan belanja sebelum berangkat ke mall atau supermarket. Tentukan barang-barang apa saja yang perlu dibeli dan barang-barang yang masih bisa ditunda untuk dibeli. Kalaupun masih pengen lirik-lirik beli barang diskonan, selalu tanyakan ke diri sendiri apakah kita benar-benar membutuhkannya saat ini atau tidak? Apakah bisa ditunda belinya? Apakah masih punya barang serupa di rumah dan belum habis masa pakainya? Apakah bisa diganti dengan barang sejenis yang lebih murah?

Trust me, trik ini bisa meminimalisir rasa bersalah kita setelah sampai di rumah hehe...

4.     Cari tambahan penghasilan
Nah, saya yakin topik ini adalah topik yang paling disuka sama ibu-ibu rumah tangga J
Baiklah, jika anda ingin mencari tambahan penghasilan, perhatikan beberapa hal berikut ini :
·       Sesuaikan dengan budget modal yang kita punya
   Banyak yang bilang modal uang bukanlah hal yang utama untuk memulai bisnis. Tapi menjalankan bisnis memerlukan uang sebagai modal usaha. Hehe..
     Jadi sesuaikan saja kemampuan modal yang kita miliki dengan bisnis yang mau kita jalankan. Pilih bisnis yang tidak terlalu memerlukan investasi besar, namun memiliki prospek perkembangan bisnis yang bagus.

·       Pertimbangkan manajemen waktu yang kita miliki
      Bagi ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah, memiliki usaha sendiri tentu memerlukan proses adaptasi yang mungkin butuh effort/daya juang lebih tinggi dibanding mereka yang punya aktivitas kerja kantoran. Karena ibu rumah tangga perlu menata ulang kembali manajemen waktu hariannya. Yang seharian mungkin hanya fokus mengurusi urusan domestik, kini perlu meluangkan waktu untuk membangun bisnisnya sendiri.

·       Pertimbangkan kemampuan apa saja yang sudah kita miliki untuk memulai usaha
   Usaha sendiri bisa dimulai dari mengembangkan hobi yang kita miliki, seperti memasak, berkebun, membuat kerajinan tangan, menulis, melukis, dll. Bisa juga mengembangkan keterampilan alami yang dimiliki seorang ibu, yaitu mendidik. Kita bisa menjadi tutor bahasa inggris, tutor mata pelajaran, atau membuka kursus keterampilan.

·       Pikirkan kira-kira ilmu apa yang perlu kita pelajari untuk mendukung usaha yang akan kita lakukan. Pelajari dan praktekkan!
     Jika sudah punya pilihan bisnis, kita perlu meningkatkan kapabilitas diri kita dengan menambah ilmu-ilmu yang sesuai dengan bisnis yang sedang dijalankan. Ingat, perubahan adalah kunci untuk sukses dan tetap eksis.

5.     Sedekah
Terakhir namun juga penting banget adalah jangan lupa untuk menyisihkan sebagian uang kita untuk bersedekah. Karena bersedekah mendekatkan rejeki langit pada kita.

Ike/tips

Kamis, 20 Juni 2019

Marah...

sumber : Amir Boucenna pixabay pict.

Seharian kemaren saya sedang marah. Marah sekali. Ada beberapa hal yang memicu kemarahan saya, dan rasanya menusuk sekali di hati

Duh, yang tahu saya marah hanya saya sendiri, karena ini gak ada kaitannya dengan anggota keluarga yang lain. Saya marah dengan orang di luar keluarga inti saya.

Yang namanya marah, kalau perempuan itu rasanya pengen "dimakan" semua, hehe... Bukan makanan ya, tapi rasanya semua orang yang di dekat kita pengen kita marahin juga, supaya mereka tahu kita lagi marah dan kecewa.

Anyway, akhirnya saya mengambil tempat dan waktu untuk nangis sendiri. Nangis sambil cuci piring, eeaaa...emak mah gitu. Lumayan agak berkurang, tapi masih sakit hati ini.

Anak-anak dan suami sih bukannya gak tahu saya lagi marah dan badmood. Mereka tahu dan karenanya mereka hati-hati banget waktu ngajak ngomong saya dan berusaha untuk gak deket-deket dulu. Takut kegigit..hihi..

Sayangnya anak saya yang kecil masih polos. Keaktifan dia justru sempat menyulut amarah saya lagi yang mulai mereda. Untung suami sigap. Langsung digendong tuh si kecil dan diajak bermain.

Uuuph..nyesel rasanya (tutup muka).

Sampai sore perasaan marah itu masih ada. Dalam keadaan marah, saya masih bisa berpikir, ini kalau diterus-terusin gak baik nih. Aku harus segera menyelesaikannya. Tapi kalau langsung frontal, dampaknya akan kemana-mana. Banyak yang akan tersakiti. Biarin lah, nekat aja!

Duh, gitu tuh self talk saya terjadi riuh banget di dalam pikiran saya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menuliskannya di note hape. Niatnya mau saya kirimkan langsung japri ke orang yang bersangkutan dan bersiap menerima segala resiko konsekuensi selanjutnya.

Hampir selesai nulis... tiba-tiba hape mati. Batre habis. Heeeemm... anehnya saya gak terlalu emosi waktu hape mati Tarik nafas..

Anehnya, setelah hape mati, emosi saya berkurang drastis. Level 1-10, mungkin sudah turun di level 3.

Ya, tadi saya tulis semua yang mau saya katakan di note. Yang keras, yang marah banget, dll (off the record). Saya tumpahkan semua kemarahan di tulisan itu. Mungkin kalau hape saya gak habis batrenya, tulisan itu bakal langsung saya kirim ke yang bersangkutan.

So, blessing disquised..

Mungkin Tuhan membantu saya meredakan marah dan emosi saya dengan cara itu.

Malamnya, saya sudah normal lagi ☺

Sudah bisa peluk-peluk anak-anak dan bikinin nasi goreng buat mereka. Saya sempatkan minta maaf ke mereka karena sudah sedikit mengabaikan mereka karena marah. Si kecil jingkrak-jingkrak dan menciumi pipi saya berkali-kali. Fiuuuh..

Pelajaran yang saya dapat dari hal ini adalah ketika saya marahsebenarnya saya masih bisa berpikir untuk mencari solusi yang paling ringan untuk mengekspresikan kemarahan saya. Yang setidaknya tidak terlalu merugikan banyak orang.

Marah adalah masalah saya sendiri. Fokus pada sumber kemarahan pertama. Biasanya, karena terlalu emosi, masalah-masalah yang kecil dan mungkin bisa dibicarakan baik-baik jadi tersangkut-sangkut juga dan justru malah memperbesar api kemarahan.

Mengatur emosi kemarahan memang tidak mudah. Tapi sadar kalau kita sedang marah, itu yang penting. Dan kesadaran itu bisa membimbing kita menemukan cara yang terbaik untuk menyalurkan kemarahan dan meredakannya.

Happy morning..

Selasa, 18 Juni 2019

The Beginning

"Something wrong with me"- Bill Porter Sales Person film

Sekian tahun berlalu sejak menikah di tahun 2009, proses yang terjadi adalah pencarian jati diri yang terus menerus. Perubahan status dari sebelum menikah dan akhirnya menikah mau tidak mau membuat diriku juga harus banyak melakukan penyesuaian diri.

Mulai dari cara pandang, pola pikir, orientasi hidup, tujuan hidup yang semuanya berubah menjadi bukan sekedar soal diriku, melainkan soal orang lain, suami dan anak-anak.

Pernikahan adalah gambaran menara gading kehidupan yang sempurna setelah orangtuaku. Itulah yang kupikirkan. Menjadi bahagia bersama orang yang kita cintai itulah impian semua umat manusia di dunia ini termasuk aku. Dan dimulai dari sinilah aku baru benar-benar menyadari apa arti ungkapan sebenarnya dari kalimat “impian tidak selalu seindah kenyataannya”. Tapi bagaimanapun memiliki mimpi indah tentu bukanlah sebuah kejahatan, bukan? Masalahnya hanyalah apakah kau sudah terbangun saat bermimpi indah.

Hidup terus berjalan... Sampai di satu titik, dimana aku menemukan diriku tidak kemana-mana. Sedih, kecewa, sakit-sakitan, dan tentu saja tidak bahagia. “Something wrong with my life...”
Kalau pernah menonton film tentang Bill Porter, sosok sales man tersukses Amerika, kira-kira seperti itulah awal pencarian jati diri yang saya alami. Sangat tidak nyaman.

Lari dan menengok ke belakang sambil berharap semua bisa di-restart kembali tentu bukanlah pilihan yang bijaksana.

Pilihan yang ada hanyalah aku harus terus melangkah ke depan, karena hidup tidak pernah berjalan mundur. Oke, berarti aku harus mulai belajar berkompromi, bernegosiasi dengan hidup yang sudah kujalani saat ini.

Dan situlah semua ini dimulai...

Saya dan Momhack Daily


Founder Momhack Daily, Author, Self Development Influencer, and Momprenenur

Dari judulnya mungkin sudah bisa ketebak pekerjaan aseli saya hehe.. Ya, saya ibu rumah tangga saja yang setiap harinya berkutat dengan urusan domestik.

Tapi justru disinilah hidup saya menjadi sangat berwarna. Ditengah “kegilaan” domestik yang terjadi saya mencoba tetap mencari dan berusaha menjaga “kewarasan” pribadi agar semua tidak hilang begitu saja menjadi momen yang terlupakan dan tak bermakna. Yang terpenting adalah apakah personality saya tetap bisa bertumbuh dengan baik atau tidak.

Disitulah saya mencoba merangkumnya dalam rangkaian tulisan di blog Momhacks Daily sebagai pengingat dan penanda perjalanan saya sebagai seorang ibu, istri, dan perempuan. Sebenarnya blog ini terlahir baru setelah tiga tahun dibiarkan begitu saja karena identitas penulis yang masih labil hehe..lebay

Anyway, saya harap mungkin catatan perjalanan ini bisa bermanfaat pula bagi perempuan-perempuan lain di luar sana yang juga memiliki pengalaman dan cerita yang serupa dengan milik saya.

Enjoy the journey...

Minggu, 05 November 2017

Sukses Berbisnis Properti dengan Modal 20 Juta

Ketika anaknya lahir, ibu rumah tangga ini berpikir untuk memberikan rumah tinggal yang lebih baik bagi buah hati dan suaminya. Sayang, tabungan mereka saat itu tidak cukup untuk membeli rumah lewat KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Jangankan untuk membeli rumah, untuk membayar DP rumah saja tidak cukup. Tetapi justru dari sinilah perjuangannya membangun bisnis properti dimulai. Hanya dengan modal 20 juta, Sariningsih berhasil merajut impiannya untuk bebas finansial melalui bisnis properti.

sumber : fb sari ningsing


Perjuangan yang Tidak Disengaja

Setelah menikah di tahun 2012, Sari Ningsih sempat tinggal dalam rumah kontrakan selama dua tahun dan belum berpikir untuk memiliki rumah sendiri saat itu. Tetapi ketika anak pertamanya lahir, barulah ia berpikir untuk memiliki rumah yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan buah hati.

"Saat anak saya, Dastan lahir, mulai terpikir untuk mempunyai rumah. Saya ingin Dastan tinggal di rumah yang lebih lega. Saat itu yang terpikir adalah mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di sekitar Pondok Aren. Tetapi begitu melihat harga rumah, ternyata untuk DP saja tabungan kami belum cukup". Demikian yang diceritakan Sariningsih dalam buku perdananya, Perempuan Bisa Bisnis Properti.

Maka dimulailah perjalanannya membangun bisnis properti. Dengan modal tabungan sebesar Rp 20 juta, Sariningsih membelanjakan uangnya untuk membeli tanah seluas 120 meter persegi di daerah Serpong, Tangerang Selatan. Rencananya, di tanah itu akan dibangun empat rumah petak. Meski tanah tersebut sempat dianggurkan selama satu tahun, pergerakan harga tanah yang terus naik, mendorong Sariningsih dan suaminya untuk mengumpulkan modal tambahan hingga Rp 30 juta untuk biaya pembangunan rumah petak pertamanya. Bahkan ibu satu anak ini rela menjual emas kawinnya untuk biaya tambahan pembangunan.

Hanya berselang satu bulan setelah proses pembangunan, rumah petak pertamanya yang bertipe 21 itu laku terjual dengan harga Rp 55 juta. Uang itu diputar kembali untuk untuk membangun dua rumah petak lainnya. Dalam waktu singkat, kedua rumah itu pun laku terjual, hingga ia dan suaminya bisa mengantongi uang Rp 125 juta dari hasil penjualan tersebut.

Uang itu terus diputarnya menjadi modal untuk membangun rumah selanjutnya. Dia pun kembali berburu lahan untuk dibangun rumah. Kali ini Sariningsih mulai merambah kawasan Bintaro, dan bisnis propertinya pun mulai berkembang satu demi satu.

Pengalaman dan pergulatannya dalam bisnis jual beli properti inilah akhirnya memberi keyakinan pada Sariningsih bahwa membeli rumah tidak harus selalu melalui KPR. Kita bisa membeli rumah cash tanpa KPR. Semangat inilah yang membawanya membentuk komunitas properti Beli Rumah Tanpa KPR. Tujuannya agar lebih banyak orang yang belajar berbisnis properti tanpa takut tidak memiliki modal yang besar, dan tentu saja perempuan juga sangat bisa terjun sebagai pebisnis properti yang handal.


Jumat, 15 Juli 2016

Pempek Suka16, "Saya Suka...Saya Suka..!!"

Hai!
Hari ini saya mau cerita soal Pempek Suka16 (kalau boleh dibilang resensi ya hehe..).
Ada yang tahu tokoh Mei-Mei di cerita animasi Upin Ipin? Upin & Ipin adalah film animasi favorit anak saya. Dan secara ga langsung saya juga pernah ikut nonton. Disitu ada tokoh Mei-mei, seorang anak perempuan keturunan Tionghoa yang seneng banget ngomong, “saya suka – saya suka”...
Nah, kali ini, saya yang bilang “saya suka – saya suka...”J
Baru 2 hari kemaren orderan online pempekku datang. Pempek Suka 16, usaha milik seorang teman. Namanya unik. Katanya sih yang kasih nama produknya itu dari suaminya. Gara-gara suaminya suka banget pempek buatan dia. Sering dibawa suaminya ke kantor dan dibagi-bagi sama temen-temennya sekantor. Eh, getok tular...semuanya ketularan suka tuh sama pempek-pempeknya. Mulailah pesanan berdatangan tiada henti.

Heem..saya sendiri pun sudah lama ga makan pempek-pempek asli Palembang. Terbayang deh lezatnya dari aroma gorengan pempek yang menguar sore itu di dapur. Menggelitik indera penciuman dan imajinasi yummy di lidah. Hehe..anak-anakku sudah penasaran dari tadi ngeliat ibunya sibuk goreng-goreng di dapur.
“Ibu goreng apa?”, tanya anakku Daru.
“Pempek”, jawabku. “Mau?”
“Mauuu...” kata Daru. Anakku ini memang suka juga sama pempek. Sejak umur 1 tahun, dia sudah kukenalkan sama makanan yang satu ini.
“Oke, pempek...sudah siaaap!”
Kami pun langsung menyerbu pempeknya. Yeeaaaaa...
Gigitan pertama...eeh kenyel-kenyel, lembut, rasa ikannya kerasa banget dan sedikit manis. Tapi menurut saya sih kok kayak dimsum ya rasanya? Ini dimsum apa pempek? Hahaha...enaak banget..aseli! rasanya pecah pokoknya...!
Bentuknya macam-macam, ada lenjer kecil, lenjer besar, keriting, adaan, kapal selem kecil dan kapal selem besar. Sayangnya kemaren kehabisan kapal selem, jadi belum nyicip yang itu deh. Semuanya enak. Yang uniknya lagi, pempek suka16 ini punya pempek kulit. Pempek yang dibuat dari kulit ikan. Woow...endes juga rasanya.
“Bu, ada pempek lagi ga? Pempeknya cuma ini?” , tiba-tiba suamiku nyeletuk sejak dari tadi dia datang dan duduk manis menekuni mangkuk pempeknya tanpa bersuara. Tahu-tahu nanya pempek lagi (#hasrat pengen nambah hahaha...)
“Aduuh...maaf sayang, sudah habis. Besok deh, kita pesen lagi ya”, sahutku dengan senyum paling manis #tsaaah...

Kenapa ya rasanya kok bisa seenak itu? Bahkan hampir mirip-mirip dimsum...hehe..Kepo kan jadinya saya. Ngobrol punya ngobrol sama temenku ini, mba Vivi, katanya rahasianya ada di kesegaran ikan tenggiri yang digunakan. Temenku ini, bener-bener menjaga kualitas kesegaran ikannya. Bukan dari ikan yang di freezer, dan kalau ikan sudah mulai bau amis, berarti ikan sudah mulai rusak. “Kalau sudah begini, saya ga bakal pakai ikannya. Jadi jangan heran kalau terkadang saya ga ada stok pempek karena ga dapat ikan segar”, tambahnya. Makanya, pempek yang dihasilkan pun tidak pernah berbau amis. Tetapi terasa segar, lebih kenyal dan sedikit manis. Ikan segar itu rasanya memang ada sedikit manisnya. Jadi tahu ya sekarang, ngebedain mana pempek yang dibuat pake ikan segar dan mana pempek yang dibuat ga pake ikan segar. Yang paling mencolok itu dari baunya. Kalau baunya amis, berarti dah ga seger tuh ikannya...ya kaan..

Saya tahu, kami sekeluarga akhirnya jadi seperti Mei-mei hihihi...”saya suka – saya suka pempek suka 16”. Tidak cuma rasa aja yang cocok di lidah, tapi harganya juga cukup ramah di kantong. Pempek kecil dihargai Rp. 5000,- per biji. Sedangkan yang ukuran besar Rp. 19.000,-. Cukup murah bukan?



Selain pempeknya, yang saya suka juga itu adalah cukanya – cuko kalo wong palembang kata. Pempek tanpa cuko itu seperti sayur tanpa garam. Pempeknya sudah endess...ditambah cukanya yang kental manis pedas, jadi tambah maknyoosss rasanya. Bagi saya, cuko ini  adalah ornamen terpenting kedua setelah pempek. Biarpun pempeknya enak, tapi kalo cukonya ga enak juga tetap aja ga nendang. Cuko aseli palembang yang saya tahu itu rasanya haruslah manis pedas, sedikit gurih dan sedikit asam. Manisnya haruslah manis legit gula aren yang terbaik. Rasa asamnya justru tidak terlalu dominan, yaa sekedar “lamat-lamatlah” (sedikit terasa, tapi bukan berarti ga ada rasa asam).


Nah, cukonya pempek suka 16 ini paasss banget rasanya..kental, manis, pedas, gurih, dan asam berpadu dengan sangat sempurna. Karena selama ini di jawa, saya hanya menemukan cuko yang encer dan berasa lebih asam, ketika nyobain cukonya pempek suka 16, langsung deh CLBK, rasanya seperti cinta lama bersemi kembali J. Kalau pesan online, biasanya cuko ini akan dikirim kering, artinya tidak dalam bentuk cair encer untuk menghindari pecah di perjalanan saat ekspedisi. Nanti kita encerkan sendiri dengan menambah 500 ml air atau sesuai selera. Bener-bener cucok deh pempek suka 16.

Well, yang penasaran pengen coba bisa langsung hubungi saja Pempek Suka 16, dengan mba Vivi langsung di :
Inbox FB : Vivi Muliawan/Hp-WA : 08118885112

Salam hangat,



Selasa, 28 Juni 2016

Tetap Safety Setelah Hari Raya

Semakin mendekati hari Raya Idul Fitri...
Pasti sudah semakin padat merayap yang belanja kebutuhan hari Raya. Meski mungkin ada juga yang tidak merayakan hari Raya lebaran...tetap saja ikut padat merayap belanja lebaran.

Yaa...lebaran sudah jadi tradisi semua orang...menjadi tradisi keluarga. Dimana berkumpul bersama keluarga besar serasa sudah "wajib" hukumnya. Semua orang merayakan...semua orang bahagia.

Nah...meski euforia kemeriahan menyambut hari Raya dimana-mana..tetap jangan lupa untuk selalu cermat dan mengedalikan diri. Supaya tetap safety setelah masa lebaran usai, beberapa tips berikut menarik untuk diintip :

1. Tetap sisihkan uang untuk menabung

Meski di saat ramadhan mendapatkan uang THR atau uang lebih, bukan berarti belanja pun harus berlebih. Sebisa mungkin sebelum belanja kebutuhan lebaran buatlah list atau daftar kebutuhan yang perlu dibeli selama Ramadhan. Hal ini bisa membantu Anda untuk mengendalikan pengeluaran yang tidak perlu. Jamak terlihat label diskon dimana-mana, yang tentu saja sangat menggoda iman untuk membeli lebih murah dan lebih banyak. Tetap fokus membeli kebutuhan yang sudah ditulis dalam daftar belanja. Jika memang ingin membeli lebih, tentukan target budget lebih yang boleh Anda belanjakan misalnya ada tambahan 500ribu lagi. Yang perlu diingat Anda harus sudah punya anggaran untuk menabung sebelum belanja hari Raya. Tentukan paling tidak 25% dari belanja hari raya Anda sudah masukan kedalam tabungan.

2. Tidak semua barang harus dibeli

Melihat label diskon dimana-mana, model baju yang lucu-lucu dan terupdate, pengen rasanya dibeli semua ya hahaha...
Kalau Anda termasuk orang yang mempunyai pundi-pundi berlebih mungkin tidak terlalu signifikan untuk mengendalikan pembelian berlebih. Tapi...kalau setelah lebaran Anda harus bekerj lebih keras bahkan jatuh berhutang setelah lebaran, hati-hati. Tidak semua barang yang bagus harus dibeli. Belilah sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan disini artinya Anda benar-benar memerlukan barang baru karena barang-barang Anda sudah rusak atau sudah tidak bisa dipakai lagi. Kalau barang-barang yang Anda miliki masih bisa diperbaiki dan berfungsi baik sebaiknya digunakan kembali. Misalnya baju, tidak harus selalu membeli baju baru. Jika baju yang Anda miliki masih bagus untuk dipakai di hari Raya, bisa Anda reuse lagi dengan lebih kreatif. Seperti menambah pernak-pernik cantik di baju Anda.  Atau bisa me-redesign baju Anda dengan lebih cantik. Yang penting bersih dan rapi. Dan yang lebih penting adalah hati yang bersih dalam menyambut hari Raya yaa kaan...

3. Tetap berbagi

Hari Raya merupakan moment yang tepat untuk tetap berbagi dengan sesama.Jangan lupakan untuk selalu berbagi. Berbagi kebahagiaan bersama saudara-saudara yang lebih membutuhkan akan membuat hari Raya terasa lebih punya makna. Dan semoga semakin melancarkan rejeki kita setelah lebaran yaa... J

Nah, itu tadi sedikit tips supaya bisa safety setelah berhari Raya...boleh ditambahin sendiri lagi tipsnya. Intinya, tetap cermat mengatur keuangan Anda dan Selamat berhari Raya...


Minal Aidin Walfaizin...
Mohon Maaf Lahir dan Batin