Mental Yang BEBAL

Kamis pagi, 10 Mei 2018


Hari Kamis rasa Hari Minggu. Hehe.. Sekarang diriku punya jadwal khusus setiap Kamis, yakni mengedit tulisan beberapa artikel. Job ini sengaja aku ambil untuk mengasah keterampilanku mengedit tulisan.

Well, sebenarnya langkahku ini lumayan terlambat dibandingkan teman-teman editor seangkatan yang sudah memulai karir mereka langsung sebagai editor sesaat setelah mengikuti training editor di Joeragan Artikel. Sementara aku baru bergerak ehm...tepatnya tergerak setelah beberapa angkatan baru training editor ditelurkan. Poor me, isn’t it?

Tapi, selalu ada kesempatan dan harapan untuk awal baru, bukan? Setidaknya, keyakinan itu yang terus menerus aku tanamkan dalam kepalaku supaya aku tetap bisa move on.

Oke, sedikit membahas soal “keleletanku” dalam memulai action. Aku menyadari, kondisiku ini tidaklah normal - menurut banyak pakar motivator. Aku ini termasuk yang lambat bereaksi dan selalu mudah menunda-nunda. Akibatnya, kesuksesanku pun lebih senang maju mundur cantik endut-endutan...daripada lancar dan cepat menuju sasaran. Coba aku sebutkan satu per satu, ya. Punya grup diskusi yang akhirnya sekarang kubiarkan vakum karena aku sudah gak punya tujuan khusus lagi di grup itu. Punya jualan ya kadang dibiarin aja karena merasa gak bisa jualan, malu promosiin, gak ada waktu buat ngurus jualannya..bla bla bla (banyak alasan). Punya grup FB, ya cuma angot-angotan gak dirawat komunitasnya. Punya ide bikin antologi bareng di beberapa grup nulis, akhirnya juga gak jalan karena akunya yang mandek gak meneruskan proses editing dan seterusnya. Merasa aku yang punya ide, maka sah-sah aja kalau aku memutuskan untuk berhenti secara sepihak nasib dari ide-ideku itu. “Gue juga yang punya gitu loh...” (tepok jidat). Mudah sekali menggampangkan banyak hal. And that make me the unresponsibility person.

Lalu apa yang bisa aku lakukan dengan kondisiku ini? Mungkinkah ada orang yang juga memiliki kegelisahan yang sama denganku? Aku ingin mengurai benang kusut ini.

Demi mencari solusi atas masalahku ini, akhirnya aku banyak dituntun untuk menemukan pelajaran dan inspirasi-inspirasi pengembangan diri. Aku mencari dan terus mencari. Belajar dan terus belajar dari banyak orang, dari banyak komunitas dan grup untuk menemukan jawaban atas persoalanku itu.

Proses pencarian itu membawa aku pada pengenalan diri lebih dalam lagi. Siapa aku? Apa tujuan hidupku? Bagaimana karakterku? Bagaimana aku harus menyikapi dunia? Apa yang menjadi impian terbesarku? Dan bagaimana cara mencapai semua itu?

Sampai saat ini, hasil akhirnya memang belum benar-benar terlihat. Namun aku menemukannya satu demi satu lalu berproses. Lalu menemukan lagi dan berproses lagi. Begitu seterusnya sampai aku benar-benar meraih semua keberhasilan.

Memulai segala sesuatu selalu dari titik nol itu tidaklah selalu mudah. Aku harus memiliki mental yang kuat dan bebal untuk menegakkan kepala dan tersenyum. Ya, mental yang bebal. Mental yang tidak hanya sekedar kuat menahan rasa malu, takut, kecewa, sedih, marah, tetapi mental yang tetap kekeuh, tangguh dan keras kepala untuk terus maju membuat perubahan. Meski tubuh fana ini termakan usia, semangat di dalamnya harus tetap dijaga agar tidak mudah padam. 

Semoga saja aku tetap bisa demikian. Karena tidak mudah mempertahankan semangat itu di tengah tanggung jawab utama yang harus aku emban sebagai seorang ibu dan orang tua. Bagaimana pun, hidup ini bukan selalu soal diriku. Melainkan juga soal bagaimana membahagiakan mereka yang berada dekat di sisiku.

Naaah... kawan, bila kalian pernah merasa kecewa dengan diriku, aku mohon maaf yang setulus-tulusnya dari diriku. Dan tolong doakan saja aku supaya menjadi lebih baik dari sekarang ya. Doa yang sama juga buat kalian. dianike

Komentar

Postingan Populer