Apa yang kau syukuri hari ini?

dok.pribadi/ike/2019


Lima bulan sudah matahari terasa tak pernah sehangat dulu lagi bagi sang suami yang sedang mencoba menikmati pagi itu dengan menegakkan sedikit kepalanya.

Masih hangat di pikirannya sakit hati yang tak terkira yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bukan sakit karena dikhianati, tapi lebih menyakitkan dari itu. Dia harus menanggung hutang yang bukanlah miliknya. Tertipu ratusan juta pada investasi bodong yang terlanjur dipercayainya. Tak bisa dihindari kepercayaan pertemanan segera berubah menjadi permusuhan. Kini dia ditinggal sendiri, terpuruk menanggung derita yang entah kapan bisa ia selesaikan..

Kopi pagi kini tak pernah terasa nikmat, seperti saat terakhir dia bisa mengingatnya sebelum kejadian itu. Kenapa semua jalan terasa buntu? Di saat dia sangat membutuhkan solusi segera untuk keluar dari permasalahan itu. Harta benda sudah habis tergadai. Bahkan sebagian besar sudah tidak bisa kembali lagi.

Teman-teman dekat, bahkan saudara sendiri yang sepertinya sangat memahami dia sejak bertahun-tahun, tak satu pun sanggup dan berani bertahan di sisinya. Satu per satu pergi menjauh. Tak ada solusi, hanya tatapan kasihan dan simpati. Lebih banyak yang memandang sinis dan menyalahkan.

Sang suami hanya memiliki istri dan anak-anaknya. Yang sangat dia harapkan tidak juga ikut menghilang bersama harta bendanya yang lain. Bersyukur baginya, sang istri tetap bertahan dengan segenap cintanya yang tulus. Meski terkadang perih, karena sadar dia tidak akan bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya seperti sebaik sebelumnya. Melihat istrinya berpeluh di dapur dan melayani beberapa pelanggan catering kecil-kecilannya, membuat hatinya tak tega. Namun saat ini dia tak berdaya...

Penghasilan mereka kini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Biaya sekolah anak-anak pun kini seringkali ditunggak. Harga dirinya sebagai seorang suami dan laki-laki terluka sangat dalam.

Diseruputnya lagi kopi yang hampir dingin itu dengan perlahan. Sejurus dirasakannya sesuatu yang hangat dan halus menyentuh pundaknya. Di lihatnya wajah sang istri dihiasi senyumannya teduh. Sejenak hatinya menghangat dan mereka duduk berdua berdampingan di teras dingin itu. Sang istri menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami.

“Yah, apa yang kau syukuri hari ini?”, tanya sang istri

Sedikit terkejut sang suami mendengarnya. Karena tak disangkanya pertanyaan itu akan meluncur dari sang istri di tengah situasi keluarga mereka yang sedang susah seperti itu.

“Apa yang kau syukuri hari ini, Yah?”, tanya istrinya sekali lagi, menyadarkan sang suami dari keterkejutannya.

“Ehm...tidak tahu, Bu” akhirnya jawaban itu yang spontan keluar dari mulutnya.

Sang istri tersenyum dan menatap sang suami dengan lembut, “Aku bersyukur, hari ini aku masih bersamamu dan anak-anak. Melewati badai ini dan terus mendampingimu sampai Tuhan mengijinkan badai ini berlalu”.

Kata-kata sang istri menghujam jantungnya. Tak terasa kedua matanya menghangat. Disentuhnya dengan lembut tangan sang istri yang dingin karena angin pagi dan mendekapnya lebih erat ke dalam pelukannya.

“Ya, aku masih memilikimu sayang dan juga anak-anak. Kita pasti bisa melalui badai ini dengan ijin Tuhan. Terima kasih”.

Kecupan lembut di kening istrinya adalah satu-satunya tanda terima kasih terdalam yang dia punya, dan kini dia tahu satu-satunya alasan yang bisa membuatnya bertahan dan menikmati pagi dengan tatapan penuh pengharapan setiap hari.

End/Ike

Komentar

Postingan Populer