Marah...

sumber : Amir Boucenna pixabay pict.

Seharian kemaren saya sedang marah. Marah sekali. Ada beberapa hal yang memicu kemarahan saya, dan rasanya menusuk sekali di hati

Duh, yang tahu saya marah hanya saya sendiri, karena ini gak ada kaitannya dengan anggota keluarga yang lain. Saya marah dengan orang di luar keluarga inti saya.

Yang namanya marah, kalau perempuan itu rasanya pengen "dimakan" semua, hehe... Bukan makanan ya, tapi rasanya semua orang yang di dekat kita pengen kita marahin juga, supaya mereka tahu kita lagi marah dan kecewa.

Anyway, akhirnya saya mengambil tempat dan waktu untuk nangis sendiri. Nangis sambil cuci piring, eeaaa...emak mah gitu. Lumayan agak berkurang, tapi masih sakit hati ini.

Anak-anak dan suami sih bukannya gak tahu saya lagi marah dan badmood. Mereka tahu dan karenanya mereka hati-hati banget waktu ngajak ngomong saya dan berusaha untuk gak deket-deket dulu. Takut kegigit..hihi..

Sayangnya anak saya yang kecil masih polos. Keaktifan dia justru sempat menyulut amarah saya lagi yang mulai mereda. Untung suami sigap. Langsung digendong tuh si kecil dan diajak bermain.

Uuuph..nyesel rasanya (tutup muka).

Sampai sore perasaan marah itu masih ada. Dalam keadaan marah, saya masih bisa berpikir, ini kalau diterus-terusin gak baik nih. Aku harus segera menyelesaikannya. Tapi kalau langsung frontal, dampaknya akan kemana-mana. Banyak yang akan tersakiti. Biarin lah, nekat aja!

Duh, gitu tuh self talk saya terjadi riuh banget di dalam pikiran saya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menuliskannya di note hape. Niatnya mau saya kirimkan langsung japri ke orang yang bersangkutan dan bersiap menerima segala resiko konsekuensi selanjutnya.

Hampir selesai nulis... tiba-tiba hape mati. Batre habis. Heeeemm... anehnya saya gak terlalu emosi waktu hape mati Tarik nafas..

Anehnya, setelah hape mati, emosi saya berkurang drastis. Level 1-10, mungkin sudah turun di level 3.

Ya, tadi saya tulis semua yang mau saya katakan di note. Yang keras, yang marah banget, dll (off the record). Saya tumpahkan semua kemarahan di tulisan itu. Mungkin kalau hape saya gak habis batrenya, tulisan itu bakal langsung saya kirim ke yang bersangkutan.

So, blessing disquised..

Mungkin Tuhan membantu saya meredakan marah dan emosi saya dengan cara itu.

Malamnya, saya sudah normal lagi ☺

Sudah bisa peluk-peluk anak-anak dan bikinin nasi goreng buat mereka. Saya sempatkan minta maaf ke mereka karena sudah sedikit mengabaikan mereka karena marah. Si kecil jingkrak-jingkrak dan menciumi pipi saya berkali-kali. Fiuuuh..

Pelajaran yang saya dapat dari hal ini adalah ketika saya marahsebenarnya saya masih bisa berpikir untuk mencari solusi yang paling ringan untuk mengekspresikan kemarahan saya. Yang setidaknya tidak terlalu merugikan banyak orang.

Marah adalah masalah saya sendiri. Fokus pada sumber kemarahan pertama. Biasanya, karena terlalu emosi, masalah-masalah yang kecil dan mungkin bisa dibicarakan baik-baik jadi tersangkut-sangkut juga dan justru malah memperbesar api kemarahan.

Mengatur emosi kemarahan memang tidak mudah. Tapi sadar kalau kita sedang marah, itu yang penting. Dan kesadaran itu bisa membimbing kita menemukan cara yang terbaik untuk menyalurkan kemarahan dan meredakannya.

Happy morning..

Komentar

Postingan Populer